Pendidikan · Agustus 2026
Kelas kembali: belajar berlanjut setelah gempa.
Ketika keadaan mulai tenang, hal pertama yang dibangun kembali sebuah komunitas adalah tempat belajar. Ruang kelas — apa pun bentuknya — adalah cara sebuah desa mengabarkan kepada anak-anaknya bahwa masa depan tetap berjalan.
Sering kali ia bermula sebagai tenda: satu papan tulis, satu bola dunia pinjaman, dan seorang guru yang tetap datang. Yang menentukan berikutnya adalah tenda itu menjadi apa. Yayasan mendukung sekolah yang dibangun kembali agar inklusif, lentur, dan tangguh — bangunan yang menerima setiap pelajar dan bertahan menghadapi apa pun yang datang.
Kerja yang lebih senyap justru soal manusia. Guru yang dilatih dan didukung membawa pemulihan lebih jauh daripada bangunan mana pun. Komunitas sekolah — orang tua, tetangga, alumni — mengubah sebuah bangunan kembali menjadi sebuah institusi.
“Sekolah dibangun kembali dua kali — sekali dengan batu bata, dan sekali lewat kepercayaan diri para gurunya.”
Berdampingan dengan pemulihan, investasi yang sama melayani setiap ruang kelas: menutup kesenjangan agar angka partisipasi bertahan, membangun kecakapan digital, dan menjaga literasi budaya — seni dan warisan yang membawa kisah Indonesia — tetap berada di dalam kurikulum, bukan di luarnya.

Keberhasilan adalah tahun ajaran yang selesai. Seorang murid yang bertahan. Seorang guru yang memilih tetap menekuni profesinya. Semua itu dihitung dengan sabar, sekolah demi sekolah — dan dilaporkan terbuka terhadap tujuan global.